Laman

Rabu, 13 Januari 2010

Asuransi Kesehatan

Familycare, Program Takaful Kesehatan Kumpulan untuk Anda beserta keluarga tercinta.

Manfaat Takaful

* Dana Tunai Harian
Pemberian Dana Tunai Harian selama Peserta menjalani rawat inap di rumah sakit. Karena sakit atau kecelakaan
* Santunan Kematian
Pemberian santunan bila Peserta meninggal karena sakit atau kecelakaan

* Santunan Cacat Tetap Total
Pemberian santunan bila Peserta mengalami Cacat Tetap Total karena sakit atau kecelakaan sehingga tidak dapat melaksanakan pekerjaan, memegang jabatan atau profesi apapun untuk memperoleh penghasilan

Keistimewaan Lainnya

* Tidak Perlu Pemeriksaan Kesehatan
Peserta tidak perlu repot melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengikuti program ini

* Jaminan Penggantian
Santunan dalam program ini tetap diberikan meskipun Peserta tetah mendapatkan penggantian dari pihak lain

* Bebas Memilih Rumah Sakit
Peserta dapat bebas memilih rumah sakit yang dikehendaki bila Peserta harus menjalani rawat inap

* Prinsip
Bagi Hasil (At-Mudharabah) Peserta akan mendapatkan bagihasit dari surplus dana bila tidak ada ktaim yang diajukan sampai akhir

Tabel Manfaat & Premi Takaful Family Care (Rupiah)

Manfaat Takaful Per Tahun FC-100 FC-200 FC-300 FC-400 FC-500
Santunan Dana Tunai Harian


Bila dirawat di ruang non ICU (Maksimal 360 hari) 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000
Bila dirawat di ruang ICU (Maksimal 15 hari) 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000
Santunan Kematian karena sakit 5.000.000 10..000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000
Santunan Kematian karena kecelakaan 10..000.000 20.000.000 30.000.000 40.000.000 50.000.000
Santunan Cacat Tetap Total 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000
Premi Tahunan Per Orang FC-100 FC-200 FC-300 FC-400 FC-500
Dewasa (usia maksimal saat masuk 55 tahun) 175.000 345.000 515.000 685.000 855.000
Anak (usia saat masuk 12 bulan s.d. 17 tahun) 90.000 175.000 260.000 345.000 430.000
Selengkapnya...

Takafulink

Sarana berinvestasi sekaligus berasuransi sesuai Syariah . Program ini menawarkan hasil investasi yang optimal dengan pilihan sesuai preferensi Anda.

Pilihan Investasi



Takaful Dana Istiqomah

* Menawarkan cara berinvestasi dengan hasil yang stabil dan risiko yang aman
* Pada pilihan ini seluruh dana Anda akan ditempatkan pada instrumen investasi berpendapatan tetap.

Takaful Dana Mizan

* Menawarkan cara berinvestasi dengan hasil yang optimal dan risiko yang moderat.
* Pada pilihan ini sebagian dana Anda akan ditempatkan pada instrumen investasi berpendapatan tetap dan sebagian lainnya pada saham.

Manfaat Takafulink

* Apabila Peserta panjang umur sampai dengan akhir perjanjian, akan menerima seluruh Dana Investasi
* Apabila Peserta yang ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian, ahli warisnya akan mendapatkan Manfaat Asuransi (Dana Santunan) dan seluruh Dana Investasi

Manfaat Asuransi
Takafulink menyediakan manfaat asuransi (dana santunan) sebesar 800% dari Premi Tahunan atau 125% dari Premi Sekaligus. Anda dapat memperluas manfaat asuransi dengan menambahkan program asuransi Takaful Kecelakaan Diri dan/ atau Asuransi Kesehatan.


Premi Dasar
Untuk menjadi Peserta program Takafulink Anda dapat memilih cara bayar:

* Premi Tahunan

Minimum Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan maksimum Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah)

* Premi Sekaligus

Minimum Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) dan maksimum Rp. 64.000.000,- (enam puluh empat juta rupiah)


Fleksibilitas

* Top Up

Anda dapat meningkatkan Dana Investasi melalui fasilitas Top Up yang dapat dilakukan kapan saja dengan ketentuan minimum sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)

* Pengalihan Investasi

Setelah masa kepesertaan 1 tahun, Anda dapat menentukan kembali pilihan Investasi yang diinginkan

* Penarikan Dana

Setelah masa kepesertaan 1 tahun, Anda dapat melakukan penarikan dana. Khusus untuk penarikan dana sebagian diberlakukan ketentuan:

* Minimum penarikan Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan
* Minimum dana yang tersisa Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)

Tabarru
Dana yang digunakan untuk saling menanggung atau tolong menolong bila terjadi musibah antar peserta. Besarnya tabarru yang diikhlaskan peserta sebagai berikut:

* 7,5% dari Premi Dasar Tahunan maksimum selama 8 tahun
* 1,25% dari Premi Dasar Sekaligus maksimum selama 8 tahun

Biaya-Biaya

* Biaya Polis:
Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah)

* Biaya Pengelolaan Investasi:
Maksimum 2,5% per tahun

* Biaya Top Up:
3% dari Premi Top Up

* Biaya setiap kali Penarikan Dana :
Maksimum Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah)

* Biaya pengelolaan yang dibebankan hanya pada tahun pertama:
32,50% dari Premi Dasar Tahunan atau
3,75% dari Premi Dasar Sekaligus

Ketentuan Kepesertaan

* Sehat jasmani dan rohani
* Usia Masuk : 17 sd 60 tahun
* Masa Perjanjian : 16 tahun untuk usia 17 sd 54 tahun atau masa perjanjian ditambah usia masuk tidak melebihi 70 tahun

Hal-hal Penting Lainnya

* Peserta memiliki kebebasan untuk memilih jenis investasi
* Atas pilihan tersebut segala risiko Investasi menjadi tanggung jawab Peserta
* Perusahaan tidak menjamin besarnya kinerja investasi.
Selengkapnya...

Produk-Produk Takaful

Dalam rangka memberikan proteksi diri dan keuangan secara syariah yang bersih, transparan dan lebih menguntungkan, inilah program yang menarik dari Takaful, Asuransi Pertama dan Terbaik Syariah :

Produk Individual :
1. Takaful Dana Pendidikan (Fulnadi), rencana pendidikan untuk sang buah hati
2. Takaful Al Khairat (Term Life + Personal Accident)
3. Takaful Falah (Asuransi Jiwa, Kesehatan + Tabungan}
4. Takaful Family Care (Asuransi Kesehatan Keluarga)
5. Takafulink Istiqomah+Mizan (investasi berpendapatan tetap+campuran)
6. Takafulink Alia (Investasi optimal + asuransi kesehatan)

GRAFIK TAKAFULINK

Produk Umum :
7. Takaful Abror (Asuransi Mobil++)
8. Asuransi Kendaraan Takaful (Jaminan Standart)
9. Takaful Baituna (Asuransi Perlindungan Rumah)

Produk Kumpulan :
10. Fulmedicare (Health Insurance/Fullmedicare/mini group)

Keunggulan PT Asuransi Takaful Indonesia sbb :

1.Dana Premi Dikelola dengan Transparan serta menjauhi hal-hal ketidakjelasan, Gambling dan Riba,
2.Mendapatkan manfaat dalam bentuk proteksi (Manfaat Takaful) dengan aqad ”Takafuli”,
3.Produk yang diluncurkan telah di sahkan oleh Dewan Pengawas Syariah,
4.Perusahaan telah mendapatkan ISO 9001,2000.
5. Asuransi PERTAMA dan TERBAIK Syariah (versi MUI Award, Majalah Investor, Majalah InfoBank, Karim Business Consulting).
6.Adanya bagi hasil dari surplus bila tidak terjadi klaim.

Selengkapnya...

Pengertian Asuransi Syariah dan Dalil

Asuransi Syariah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Contoh ayat-ayat Allah dan Hadits Rasulullah yang menjelaskan Manfaat dari Asuransi Syariah:

1.Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A’raf : 34)
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah, untuk menjalani kehidupannya di muka bumi. Namun dalam menjalankan kehidupannya tersebut manusia tidak mengetahui, sampai kapan ia akan terus hidup, kapan ia akan jatuh sakit, kapan tertimpa musibah, kecelakaan, kebakaran dsb. Karena hal tersebut semata-mata hanyalah merupakan rahasia Allah SWT.

2. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa’ : 9)
Dalam kehidupannya manusia memiliki potensi mendapatkan musibah dan bencana yang mungkin tidak diduga sebelumnya, dan oleh karenanya manusia diminta untuk mempersiapkan diri, menghadapi berbagai kemungkinan musibah yang akan menimpanya, sehingga tidak menimbulkan kemadharatan bagi orang-orang yang ditinggalkannya

3. Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra berkata, … bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya jika engkau meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya (kecukupan) lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka miskin yang meminta-minta kepada manusia lainnya. (Muttafaqun Alaih).
Bersamaan dengan ketidaktahuan manusia mengenai perkara yang ghaib (yang akan terjadi), Allah juga memerintahkan agar manusia membuat perncanaan untuk hari depan.

4. Dari Nu’man bin Basyir ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila terdapat satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain akan turut merasakannya (seperti) tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Diantara sesama kaum muslimin, kita diperintahkan untuk saling tolong menolong & bantu membantu, khsusnya terhadap yang mendapatkan kesulitan.

Kesimpulannya : Asuransi syariah merupakan proteksi yang bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri dan keluarga, namun juga bermanfaat bagi orang lain. Karena dalam berasuransi syariah, kita bisa saling tolong menolong dengan sesama peserta asuransi yang diambil dari dana tabarru dan sesuai dengan Alquran & Al Hadits.

Selengkapnya...

Asuransi Pendidikan Syariah

Fulnadi atau Asuransi Pendidikan Syariah adalah program asuransi untuk perseorangan yang bertujuan untuk menyediakan Dana Asuransi Pendidikan Syariah untuk putra-putri peserta sampai pendidikan tingkat sarjana dengan manfaat proteksi atas resiko meninggal.

"Anak merupakan amanah, dari Allah yang Maha Pemurah, mendidiknya bagian dari ibadah, meskipun bukan perkara mudah.

Ada hal yang tidak dapat dicegah, musibah tak dapat diubah, selain berbekal tabah, ikutilah Takaful Asuransi Syariah.

Dengan program Takaful Dana Pendidikan, masa depan anak kita canangkan, meskipun usia bukan kita yang menentukan, cita2 anak InsyaAllah tetap terwujudkan".

Di Takaful, asuransi pertama dan terbaik syariah ada FULNADI, asuransi pendidikan yang merancang masa depan yang cerah untuk sang buah hati".

. Jika peserta panjang umur s/d akhir perjanjian, anak akan mendapatkan tahapan saat masuk tk, sd, smp, sma, PT dan beasiswa selama 4th di perguruan tinggi,
.Jika peserta mengundurkan diri sebelum masa perjanjian berakhir, peserta mendapatkan nilai tunai+bagi hasil keuntungan (tidak ada dana hangus)
.apabila peserta meninggal, maka ahli waris menerima: santunan untuk pasangan sebesar 100% rencana penabung+seluruh dana tabungan+bagi hasil, dan ahliwaris/penerima hibah mendapat kan uang masuk dan beasiswa uang sekolah/tahun dari TK s/d 4th di perguruan tinggi, apabila penerima hibah yang meninggal maka akan mendapatkan seluruh nilai tunai tabungan + 10% rencana tabungan.

Asuransi Pendidikan syariah, dana peserta dikelola dalam sistem keuangan syariah yang anti MAGHRIB (Maysir=transaksi bersifat spekulasi/judi, Gharar = transaksi yang tidak jelas/penipuan, Riba, Bathil = perbuatan jahat)

Investasi di sektor real, jadi hasil yang didapat pasti, tidak tergantung perkembangan harga saham/keuntungan nanti. Selain asuransi pendidikan tersebut, di PT Takaful ada juga asuransi pendidikan dengan dana diinvestasikan disektor link (TakafulLink) : nabung hanya 10th, ada rider utk kesehatan, kecelakaan, jiwa, dll,
dana pensiun, kesehatan, asuransi kebakaran, kendaraan, asuransi kesehatan untuk kumpulan/karyawan dll. juga ada.
Selengkapnya...

Minggu, 10 Januari 2010

Sedang Tuhan pun Berbagi (i)

Kalau orang sampai mikir tema spiritualitas pembangunan, itu tak lain karena yang mengerjakan pembangunan itu memang manusia.
Mungkin saja dibantu dengan jin, dukun, iblis, setan atau bahkan maiaikat, tapi khalifah utamanya manusia.
Yang membuat jembatan adalah manusia. Yang bikin jalan tol juga manusia. Yang membeli ratusan hektar tanah dengan sertifikat in absentia ya manusia. Yang semakin terang-terangan minta sogokan untuk setiap langkah untuk membikin surat resmi ya manusia juga. Yang dagang kambing ya manusia. Bahkan yang dagang orang ya manusia.

Ada yang usil "Spiritualitas pembangunan itu apa bisa disebutjuga tuyul pembangunan? ". Jawablah why not? Etos tuyul bukan saja merasuk ke dalam mentalitas para manusia pembangunan, ia bahkan juga mempola di dalam sistem-sistem pembangunan. Hal seperti
ini tak perlu lagi diterang-jelaskan karena sudah menjadi pengetahuan bersama, bahkan mungkin sudah menjadi pengalaman kita bersama, dalam frekwensi masing-masing.
Kalau tuyulisme memiliki.peranan tak kecil dalam proses pembangunan, maka biarlah kita pakai saja kerangka berpikir 'kampung' untuk melihat tuyul itu keponakan siapa. Kita sudah kenal Dajjal dan barangkali sudah lama karib dengan syaitan, gendruwo maupun druhun atau apapun dalam 'zat' dan 'bentuk'nya yang silahkan diperdebatkan. Tapi jadinya kita juga mengingat citra Allah, kapasitas kemalaikatan atau apapun didalam din kita.
Cari gendruwo jangan ke kuburan. Cari kemamang jangan ke sawah sepi, Cari banaspati jangan ke rerimbunan pohon. Cukup menjumpai mereka dengan membalikkan arah pandang mata : dari luar ke dalam. Tuyul bahkan bergerombol- gerombol di ujung jari jemari kita.
Jadi kalau tiba-tiba saja kita mentertawakan tema spiritualitas pembangunan, tiba-tiba juga kita tonton bahwa yang tertawa itu ternyata Oom Tuyul, yang tinggai begitu krasan di dalam lendir keringat kita yang kumuh.
Kenyataan seperti itu gamblang dan rasional.
Dajjal ditugasi merangkumi sejarah, syaitan dipekerjakan di langkah manusia, tuyul diberi peran-peran dalam mesin dan birokrasi.
Seperti juga Allah mempekerjakan diriNya, Allah menugasi diriNya, Allah menentukan fungsi-fungsiNya, dalam konteks dan batasan-batasan yang ia tentukan sendiri. Mau apa, memang yang bikin seluruh makhluk ini memang Ia sendiri.(bersambung )
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalism e Muhammad - Islam Menyongsong Masa Depan"/Sipress/ 1995/PadhangmBul anNetDok)
Selengkapnya...

Sedang Tuhanpun Berbagi(ii)

Saya jadi teringat sebuah diskusi serius di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Soal-soal politik, pembangunan, kebudayaan, sistem-sistem rekayasa kesejarahan, serta berbagai hal 'maha' besar lainnya - diringkas dalam suatu kecamuk perbincangan yang penuh semangat, penuh protes dan intelectual acrobat maupun political erection. Serta kemudian rasa letih.
Segala sesuatunya bermuara pada kesimpulan yang pe-nuh keyakinan bahwa sistem yang mengatur segala sesuatu di negeri ini musti dirombak. Kesimpulan itu akhimya diburnbui dengan semacam fatwa kepada masyarakat umum yang dianggap suka berpikir irrasional

dan bersikap konservatif dalam banyak hal. Fatwa itu sederhana namun mendasar. Yakni, "Saudara-saudara! Ingin saga tegaskan bahwa yang disebut nasib itu sesungguhnya tidak ada. Yang ada ialah sistem, yang merancang dan mengatur jalannya roda kehidupan,
yang membikin tetangga Anda naik mobil dan Anda sendiri naik bus kota ...."
Forum lantas menggeremang bagaikan tawon modal (lebah yang tengah keluar dari sarangnya). Para tawon pulang ke rumah masing-masing membawa keremangannya masing-masing.
Sudah tentu : "sistem harus dirombak" adalah sesuatu hal dan "nasib itu tak ada" adalah sesuatu hal yang lain.
Seseorang bersikap santai :Terserah nasib itu ada atau tak ada, yang penting sistem harus dirombak.
Yang lain keberatan : kepercayaan masyarakat bahwa nasib itu ada merupakan faktor tidak kecil yang menjadi kendala bagi proses-proses ke arah perombakan sistem.
Ada yang menamhahkan : sikap terhadap ada tidaknya nasib itu sangat mendasar bukan karena menghambat atau mendorong proses perombakan sistem, melainkan karena akan menentukan arah dan model dad sistem yang kelak dikandidatkan untuk mengganti yang
sekarang berlaku.
Namun di antara semua itu ada satu hal yang klise : tak pernah dicari orang jawabannya tentang bagairnana sebaiknya perombakan itu dimulai, apa skala prioritasnya, bagian-bagian mana dari tubuh sejarah yang pertama musti digoyang, bagaimana proses politiknya, apa mungkin dilakukan rintisan garis-balik sosial ekonomi untuk menempuh hal itu sebelum sistem globalnya dibikin ambrol sedemikian rupa. Juga tidak seorangpun merasa bertanggungjawab menjawab siapa saja yang musti memulai, apa yang harus diberikan dan dilepaskan oleh manusia ini kelompok sosial itu ; atau juga dalam mengarsiteki suatu gelombang baru, apa saja yang wajib, apa yang sunnah, yang mubah, yang makruh dan yang haram. Dan akhimya kepada siapa atau apa terletak kunci tanggungjawab utama suatu usaha perubahan. Soalnya : setiap orang menyalahkan orang lain dan menganjurkan orang lain.
Jadi mengapa masalah-masalah ini relevan terhadap soal tuyul atau spiritual?
Karena tidak jelasnya letak kunci tanggungjawab itu mencerminkan kebiasaan kita bahwa dalam membicarakan perubahan-perubahan keadaan : kita kurang mempersoalkan tanggungjawab manusia. Kurang memperdulikan moral individual atau kelompok kecuali kita sebut-sebut sebagai akibat dari mekanisme sistem. Kurang memperhatikan, bahkan kurang mempercayai bahwa hakekat manusia pada mulanya adalah subyek dari moralitas sendiri.
Dengan kata lain kita tidak mengandalkan kualitas manusia. Mentalitas manusia. Spiritual manusia.
Saya kira pada titik inilah Islam tidak bisa tidak beranjak lebih kreatif dari 'sekedar' pandangan-pandangan yang melihat manusia tak lebih sebagai 'kambing-kambing gembalaan sistem pengendali sejarah'. Tentu saja ada beribu-ribu bukti nyata betapa manusia dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan sistemik yang mengatasinya. Tetapi manusia yang ta fa kka ruu 'anil khalq - demi kian Islam setahu saya mengajarkan - tidak bakalan memberontak terhadap kendali-kendali itu untuk menyerahkan din kepada ideal-ideal lain, yang tampak manis, tapi juga telah bersiap dengan kendali-kendali baru serta dengan ketidakpercayaan terhadap hakekat manusia. (bersambung)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalism e Muhammad - Islam Menyongsong Masa Depan"/Sipress/ 1995/PadhangmBul anNetDok)

Selengkapnya...

Sedang Tuhanpun Berbagi (iii)

Muslim yang berpikir (karena berpikir antara lain maka ia Muslim) tidak menggabungkan diri ke dalam suatu gairah masa depan yang memperlakukan manusia, makhluk Allah paling utama ini, hanya sebagal angka-angka yang direbut dari mesin lama ke mesin yang
baru.
Kalau tidak demikian, konsep khalifatullah fil ardl, tidaklah diperuntukkan bagi semua manusia dalam suatu persamaan di hadapan Allah melainkan diperuntukkan bagi suatu elite di atas manusia umum. Kaum Muslimin tidak bergerak untuk menjadi edisi berikut dari suatu tatanan yang mengatas namakan nasib Wong cilik, buruh, tani, untuk meletakkan mereka justru pada posisi kawula sekawula-kawulanva seperti sejarah dunia telah mencatat ironi itu dengan seksarna.

Dengan demikian, hal spiritualitas pembangunan bukan hanya soal bagaimana kita mempertanyakan kembali konteks pembangunan mental spiritual dari proses yang mapan dewasa ini. la juga menyangkut segala usaha untuk menguak setiap aspirasi perubahan atau perombakan : bahwa urusan kita lebih dari sekedar mengadili soal pembagian rejeki perut. Di dalam Islam bahkan ada garis silang nilai yang bisa saja menafikan soal isi perut. Islam memiliki pandangannya sendiri mengenai kekayaan dan kemiskinan. Islam bahkan
menjamin hak bagi seseorang untuk memilih kemiskinan, meskipun dianjurkan untuk menjauhi kefaqiran.
Islam tidak mewajibkan kekayaan seperti juga tidak mengharamkan kemiskinan. Untuk itu seorang Muslim tidak perlu terjebak untuk membenci orang kaya atau justru menyintai orang miskin. Sebab kalau soalnya adalah menyintai orang miskin, maka Anda butuh
memelihara kemiskinannya agar cinta Anda tetap terpelihara. Juga kalau soalnya adalah membenci orang kaya, maka kasusnya adalah kecemburuan terhadap kekayaannya.
Sejauh saya mengerti, yang menjadi pokok soal dalam Islam ialah bagaimana kekayaan diperoleh dan bagaimana derita kemiskinan sampai diperoleh. Yang diajarkan oleh Islam bukanlah 'kaya' atau 'miskin', melainkan sikap terhadap kekayaan dan kemiskinan.
Termasuk juga sikap terhadap kemunkaran sistem yang mengatur adil tidaknya harta a-lam ini dibagi kepada manusia.
Sikap tersebut tak lain adalah bagian dari spiritualitas. Bagian lain dari spiritualitas ialah panggraita, meraba lebih dalam terhadap ada tidaknya nasib.
Lihatlah kartu domino. Kartu-kartu sudah tertentu. Berbagai kernungkinan permainan juga bisa dipelajari. Namun persoalan pembagian kartu, kapasitas manusia hanya mengocoknya. Silahkan lakukan seratus atau seribu kocokan, tapi Anda tidak bisa menentukan apa dan bagaimana kartu Anda. Anda tidak bisa menjamin bahwa Anda akan bebas dari balak-6.
Ada faktor X, peranan lain diluar diri manusia yang dikandung oleh permainan domino.
Atau sepakbola. Silahkan bikin coaching yang canggih. Dari ketrampilan individu sampai pola permainan. Namun coba gambarlah garis larinya bola selama 90 menit. Anda sama sekali tidak akan pemah bisa merancang bagaimana gambar itu. Di saat lain Anda hanya bilang 'bola itu bundar".
Ada faktor X, peranan lain di luar diri manusia yang dikandung oleh permainan sepakbola.
Tentu saja tidak analog bahwa sistem perekonomian yang kita anut dewasa ini sama dengan kocokan domino. Namun yang penting peranan manusia itu terbatas sampai titik tertentu.(bersambun g)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalism e Muhammad - Islam Menyongsong Masa Depan"/Sipress/ 1995/PadhangmBul anNetDok)

Selengkapnya...

Sedang Tuhanpun Berbagi (iv)

Sejauh saya mengerti, yang menjadi pokok soal dalam Islam ialah bagaimana kekayaan diperoleh dan bagaimana derita kemiskinan sampai diperoleh. Yang diajarkan oleh Islam bukanlah 'kaya' atau 'miskin', melainkan sikap terhadap kekayaan dan kemiskinan.
Termasuk juga sikap terhadap kemunkaran sistem yang mengatur adil tidaknya harta a-lam ini dibagi kepada manusia.
Sikap tersebut tak lain adalah bagian dari spiritualitas. Bagian lain dari spiritualitas ialah panggraita, meraba lebih dalam terhadap ada tidaknya nasib.

Lihatlah kartu domino. Kartu-kartu sudah tertentu. Berbagai kernungkinan permainan juga bisa dipelajari. Namun persoalan pembagian kartu, kapasitas manusia hanya mengocoknya. Silahkan lakukan seratus atau seribu kocokan, tapi Anda tidak bisa menentukan apa dan bagaimana kartu Anda. Anda tidak bisa menjamin bahwa Anda akan bebas clan balak-6.
Ada faktor X, peranan lain di Mar diri manusia yang dikandung oleh permainan domino.
Atau sepakbola. Silahkan bikin coaching yang canggili. Dad ketrampilan individu sampai pola permaman. Namun coba gambarlah garis larinya bola selama 90 menit. Anda sama sekali tidak akan pemah bisa merancang bagaimana gambar itu. Di saat lain Anda hanya
bilang 'bola itu bundar".
Ada faktor X, peranan lain di luar diri manusia yang dikandung oleh permainan sepakbola.
Tentu saja tidak analog bahwa sistem perekonomian yang kita anut dewasa ini sama dengan kocokan domino. Namun yang penting peranan manusia itu terbatas sampai titik tertentu.
Kita tidak bisa menjamin 100% bahwa besok pagi kita masih hidup. Sekian persen jaminan itu tidak berada ditangan kita. Kita hanya bisa mengusahakan kesehatan dan ketertiban hidup, namun bukan penolakan atas maut seperti yang kita rindukan setiap hari.
Di sisi kita, Allah berbagi. Allah menentukan batas fungsiNya sendiri dalam kehidupan manusia. Kehidupan jangan diserahkan 100% kepadaNya, jangan pula 100% pada diri kita sendiri. Namun itu persoalannya yang bikin hidup kita mudah karib dengan tuyul.(selesai)
Yogya. 28 Oktober 1989
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalism e Muhammad - Islam Menyongsong Masa Depan"/Sipress/ 1995/PadhangmBul anNetDok)

Selengkapnya...

SEPAK BOLA SEBAGAI GEJALA SEJARAH

Saya tidak sungguh-sungguh mengenal – apalagi menguasai seluk beiuk – dunia sepakbola. Saya sekedar menyukainya. Pengetahuan saya mengenai tehnik persepakbolaan, sejarahnya, petanya di negeri ini dan di dunia, siapa saja nama pemain-pemainnya – amat sangat terbatas dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pengetahuan Anda. Indikator bahwa di dalam hidup saya ada sepakbola hanyalah bahwa di kedua kaki saya terdapat banyak bekas luka karena main sepakbola ndeso di masa kanak-kanak dan masa muda saya. Selebihnya, saya juga bukan penonton setia pertandingan- pertandingan sepakbola di level manapun. Bukan pula pemerhati perkembangan dunia sepakbola. Bahasa jelasnya: dalam soal persepakbolaan, saya sama sekali seorang awam. Seorang penggembira yang mensyukuri bahwa pernah ada seseorang, suatu kelompok atau sebuah masyarakat yang kreatif menemukan kenikmatan ‘budaya’ yanq disebut sepakbola.

Adapun kalau sesekali saya menulis di media massa tentang sepakbola, ada sejumlah sebab. Menulis di koran hanyalah perpanjangan tangan dari obrolan sehari-­hari. Puluhan juta orang mernperbincangkan sepakbola: beda antara saya dengan mereka hanyalah bahwa obrolan saya terkadang memakai modus ekspresi yang lain serta dengan daya jangkau yang agak lebih luas. Sebagaimana berpuluh-puluh juta orang tersebut berhak membicarakan apa saja – dari presiden, Tuhan, sambal, hingga sepakbola – maka sayapun merasa tidak ada salahnya omong sepakbola. Negara, menteri-menteri, harga lombok, adalah 'milik' kami yang berhak kami perbincangkan kapanpun saja.
Sebab yang kedua, teman-teman media massa sukanya minta sih agar terkadang saya menulis olahraga, terutama kalau pas ada peristiwa-peristiwa olahraga penting. Saya orangnya amat susah menolak. Permintaan itu terkadang saya penuhi, dengan persyaratan hendaknya mereka memahami dan mengizinkan bahwa posisi saya bukanlah sebagai – semacam – kolumnis olahraga. Melainkan sekedar sebagai seseorang biasa yang kebetulan mencoba menuliskan hal-hal yang sebenarnya memang merupakan bahan obrolan sehari-hari siapa saja. Termasuk dengan tingkat – mutu obrolan sehari-hari pula.
***
Akan tetapi di luar itu, mungkin memang ada hal-hal yang agak sedikit lebih penting. Misalnya, bahwa gejala – sebagaimana segumpal batu, se-uleg-an sambal atau sebuah revolusi sosial – sepakbola adalah cermin sejarah. Di dalam sepakbola saya bisa menemukan hampir apa saja yang juga saya temukan di luar lapangan bola, bahkan di wilayah-wilayah yang lebih serius dibanding sepakbola.
Di dalam sepakbola saya berjumpa dengan gejala sosial. Dengan manusia. Dengan wataknya. Kualitas kepribadiannya. Kecerdasan atau kedunguan otaknya. Kepekaan dan spontanitasnya. Refleksi-refleksi dari dunia pendidikan, kebudayaan, keluarga, nilai-nilai, bahkan juga tercermin akibat-akibat kesekian dari mekanisme politik, industrialisasi, modernisme, atau apa saja. Lebih dari itu saya bisa yakinkan bahwa dengan Tuhan, filsafat dan imanpun saya bertegur sapa di dalam sepakbola.
***
Pada suatu hari Anda menyaksikan pertandingan sepakbola nasional kita, atau pertandingan- pertandingan elite dunia yang bagaikan 'magic’. Lantas barangkali Anda teringat dahulu kala tatkala Anda bermain sepakbola di kampung: memakai buah jeruk sebagai bola. Atau kulit luar pohon pisang kering yang Anda bikin sampai menjadi bulatan bola. Atau bola-bola karet dan plastik biasa yang Anda dapatkan di Pasar Kecamatan. Sesekali, mungkin bersama Santri-santri dari Pesantren sebelah Anda mencoba bermain dengan bola api.
Ingatan masa silam Anda itu bukan hanya bermakna sebagai nostalgia yang romantik. Lebih dari itu, Anda mungkin memperoleh pelajaran tentang mekanisme transformasi. Transformasi budaya. Transformasi sejarah. Transformasi manusia. Outline-nya: transformasi budaya manusia dalarn sejarah.
Menjadi pemain sepakbola di tahun 1960an sangat berbeda dengan menjadi pemain sepakbola tahun 1990an. Menjadi pemain sepakbola di kampung yang bersenang-senang pada kompetisi 17-an sambil sesekali pukul-pukulan, berbeda dengan ketika ikut Pelatnas atau berlaga melawan klub-klub sepakbola profesional­- industrial. Menjadi pemain sepakbola dengan kaki telanjang atau saat mulai belajar pakai sepatu sehingga rasa berlari kita seperti bandit yang kakinya dirantai dan digandholi beban bulatan besi, berbeda dengan menjadi pemain sepakbola sebagai suatu pekerjaan dari 'ideologi' modernisme. Menjadi pemain sepakbola nostatgia bersama para Jago Kapuk alias veteran berbeda dengan tatkala kaki kita siap patah menyangga misi nasionalisme olahraga, nama baik bangsa atau memperjuangkan nafkah anak istri melalui tentangan bola.
Anda nyeletuk: "Ya mesti saja! Wak Jan juga tahu kalau itu berbeda!"
Saya memaksudkan perbedaan itu lebih – atau sekurang-kurangnya berbeda – dengan yang barangkali Anda bayangkan.
Perbedaan pertama mungkin sederhana saja, ialah pada perasaan yang bergolak. Di kampung, selama main bola hati kita berbunga-bunga menikmati sepakbola as a fun and enjoyment. Tapi tatkala Anda berdiri di lapangan dan di seberang Anda adalah Fandy Achmad dari tim nasional Singapura atau apalagi (hiii) Franco Baressi pendekar AC­ Milan: gelombang perasaan kita pasti lebih komplit. Bermain tetap sebagai hiburan dan kenikmatan juga barangkali, tetapi kuda-kuda mental kita harus lebih dari itu.
Di dalam nasionalisme sepakbola, di dalam profesionalisme sepakbola, di dalam industrialisme sepakbola: kita haruslah merupakan seorang manusia modern. Seorang pemain 'sepakbola modern’. Seorang modernis dalam sepakbola. Cara berpikir kita, sikap mental kita, wawasan dan pengetahuan kita, pola determinasi budaya kita, setiap kuda-kuda kita, segala sepakterjang kita, haruslah merupakan endapan atau perasan dari kuda-kuda modernisme.
Bagi kebudayaan sepakbola modern internasional saja antara sepakbola sebagai kenikmatan (baca: sebagai kesenian, estetika) masih relatif berpolarisasi dengan sepakbola sebagai 'mesin' profesi (baca: teknologi). Bukankah polarisasi itu pula yang selama dua dekada terakhir ini menjadi substansi nuansa antara persepakbolaan Eropa dengan Amerika Latin? Bukankah tim raksasa seperti Brazil saja selama putaran piala dunia tiga kali berturut-turut masih dihinggapi splits atau semacam kegamangan antara estetika dengan teknologi sepakbola?
Dalam bahasa populer, polarisasi itu terungkap misalnya lewat perdebatan para pelatih. Yang satu bilang: "Ini sepakbola manusia, bukan onderdil mesin. Sepakbola manusia adalah keindahan". Lainnya menyindir: "Indah atau tidak indah itu memang penting. Tapi yang lebih penting adalah terciptanya gol". Sementara lainnya lagi berkomentar: "Keindahan dan terciptanya gol sama pentingnya".
Atau dalam bahasa sehari-hari, kita membedakan antara sepakbola tradisional dengan sepakbola modern dengan istilah sepakbola alamiah yang mengandalkan naluri dengan sepakbola rasional yang mengandalkan ilmu dan kecerdasan akal.
Bahasa jelasnya: manusia sepakbola di jaman kontemporer ini belum selesai dengan proses transformasinya. Masih terus berjuang memproses instalasi yang yang terbaik bagi budaya sepakbolanya. Masih belum menemukan keutuhan antara 'alam'nya dengan 'modernisme' nya. Sejarah sepakbola masih terus bergolak secara amat dinamis. la masih akan tiba pada inovasi-inovasi, bahkan mungkin juga invensi.
Bagi kita-kita di Negara Berkembang, seringkali terjumpai: seorang pemain yang tampak amat berbakat secara alam, namun menjadi bengong ketika memasuki arena modern persepakbolaan. Tiba-tiba kakinya gagu, tampak tidak memiliki kecerdasan, sejumlah ketrampilannya mendadak lenyap entah ditelah oleh apa. Kesimpulannya, di dalam budaya sepakbolapun ternyata harus ditemukan metoda transformasi yang tepat, yang mempeluangi setiap pemain untuk mengubah dirinya menuju pemenuhan tuntutan-tuntutan sepakbola modern tanpa kehilangan potensi alamiahnya. Kalau tidak, Galatama menjadi tidak laris, PSSI kalah terus, dan kita capek menangis. Apalagi kalau organisasi PSSI lebih merupakan ajang dari persaingan dan perbenturan kepentingan yang sebenarnya bersifat non-sepakbola. Mampuslah kita para penggembira sepakbola nasional.
(Emha Ainun Nadjib/2004/ PadhangmBulanNet Dok)

Selengkapnya...

Saridin

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid. Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.

Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur'an ana biashwatikum - hiasilah Qur'an dengan suaramu.
Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.
Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur'an, lidah mereka lincah banget.
Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.
Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir. Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan senyum-senyum ditahan.
Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.
Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.
Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.
Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.
Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.
Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan, sami'na wa atha'na -aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.
Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apa pun.
Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.
"Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?" Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. "Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya. "
Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.
"Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa."
Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: "Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?"
"Takut sekali, Sunan."
"Kenapa kamu melakukannya? "
"Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku."
"Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?"
"Aku tahu persis itu, Sunan."
"Kenapa kau langgar akal sehatmu?"
"Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati."
"Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?"
"Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati."
Sunan Kudus melanjutkan: "Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?"
"Maksud Sunan?"
"Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?"
"Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri," jawab Saridin, "Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda."
"Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?"
"Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya."
(Emha Ainun Nadjib/"Demokrasi Tolol versi Saridin"/Zaituna/ PadhangmBulanNet Dok)

Selengkapnya...